Drama Perburuan Syamsudin, Bos Besar Miras Oplosan

Dalam beberapa pekan terakhir, kasus miras oplosan maut di Cicalengka, kabupaten Bandung, memang jadi perhatian banyak orang. Sedikitnya dilaporkan kalau 45 orang tewas karena menenggak miras oplosan yang disebut berjenis ginseng itu. Langsung gerak cepat, kepolisian setempat pun memburu sang bos besar produsen miras maut, Syamsudin Simbolon. Saat menelusuri keberadaan Syamsudin yang kabur, Polres Bandung dan Polda Jabar pun menemukan bunker rahasia di rumah Syamsudin.

 

Bunker itupun diduga kuat sebagai lokasi miras oplosan karena menurut penuturan Ahmad Subhana selaku Ketua RW di kediaman Syamsudin, rumah sang bos besar itu selalu menunjukkan kegiatan aktif di malam hari. Dan akhirnya pada Rabu (11/4) siang, Ahmad bersama jajaran TNI-Polri dan perangkat kampung Marga Asih, desa Cicalengka Wetan melakukan penggerebekan pada rumah mewah itu.

 

Mereka menemukan bunker di bawah gazebo di dekat kolam renang pribadi. Dan saat masuk ke dalam bunker, ada ratusan wadah dan kaleng besar yang berisi bahan baku miras oplosan yang sangat mengejutkan. Sosok Syamsudin memang tidak dekat dengan warga karena sang bos besar diketahui tinggal di kios miras yang sudah disegel dan terletak 100 meter dari rumah mewah sekaligus gudang produksi miras oplosan maut. Terungkap pula jika sebelum berbinis miras, Syamsudin adalah mantan sopir angkot, seperti dilansir Detik.

 

Tak butuh waktu lama, Syamsudin pun ditetapkan sebagai buronan dan diburu selama satu pekan sebelum akhirnya tertangkap di area hutan wilayah kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan hari Rabu (18/4) dini hari pukul 01.00 WIB.Syamsudin kabur dan melakukan perjalanan darat ke Banten lalu menyeberangi selat Sunda lewat Merak dan tiba di Lampung. Dia melanjutkan aksi kaburnya ke Pekanbaru dan Palembang. Syamsudin kabur bersama kerabatnya hingga di hutan kawasan Musi dan tinggal di sebuah gubuk selama dua malam sebelum akhirnya diringkus.

 

Empat Anak Buah Syamsudin Masih Buron

 

Setelah ditangkap di hutan, Syamsudin pun langsung diterbangkan ke Bandung untuk bertanggung jawab. Sebagai pria yang meracik sekaligus menjual miras Judi poker online oplosan maut, Syamsudin langsung ditetapkan sebagai tersangka. Tak sendiri, dua pegawainya yakni Julianto Silalahi dan Willy juga ditahan beserta Hamciak Manik, istri Syamsudin yang dianggap polisi tidak kooperatif.

 

Hamciak tidak memberikan informasi mengenai bunker tempat gudang miras oplosan maut di rumah mewah mereka yang membuat kepolisian meringkusnya. Setelah empat orang jadi tersangka, polisi kabarnya masih memburu empat anak buah Syamsudin lainnya. Mereka adalah Roysan Guntur Simbolon (27) dan Asep alias Emplud sebagai penjual miras sertaSony Simosir (23) dan Uwa sebagai asisten pembuat miras.

 

45 Orang Tewas, Syamsudin Kena Pasal Pembunuhan Berencana

 

Dengan 45 korban tewas akibat menenggak miras oplosan maut, kepolisian mengkaji kemungkinan Syamsudin dan komplotannya dijerat pasal pembunuhan berencana. Komjen Ari Dono selaku Kabareskrim Polri mengungkapkan kalau dalam kasus Syamsudin ini perlu diketahui proses meracik dan bahan baku yang diberikan Syamsudin untuk produk miras oplosannya.

 

Senada dengan Komjen Ari, Brigjen M Iqbal selaku Karo Penmas Divisi Humas Polri menyebut jika biasanya tersangka kasus miras hanya dijerat UU Kesehatan. Sehingga adanya jeratan Pasal 340 KUHP ini bisa menimbulkan efek jera karena bahan-bahan kimia dalam miras oplosan sangat berbahaya. Jika memang Syamsudin dijerat pasal pembunuhan berencana, maka ancaman hukumannya dengan para komplotannya adalah pidana penjara 20 tahun, seumur hidup hingga hukuman mati.